pariwisata kabupaten jember

Pondok Pesantren Tebu Ireng Dikunjungi Dubes AS

  Dibaca : 234 kali
Pondok Pesantren Tebu Ireng Dikunjungi Dubes AS
Dubes sedang berdialog dengan gus sholah
space ads post kiri

Duta besar Amerika Serikat untuk Indonesia Josep R. Donovan Jr, berkunjung ke Pondok Pesantren Tebu Ireng, berlanjut ke Klenteng Hong San Kiong, Kecamatan Gudo, Jombang, Kamis(2/3).

Pondok Pesantren Tebu Ireng Dikunjungi Dubes AS

Dubes sedang berdialog dengan gus sholah

Kunjungan Dubes Amerika di Ponpes Tebu Ireng diantaranya untuk mengerti lebih jauh tentang peran islam di indonesia khusunya di jawa timur secara langsung dari pengasuh Ponpes Gus sholah ,selain itu untuk berdialog membahas mengenai pertukaran pelajar.

“Saya senang Gus sholah mau menyempatkan waktunya untuk saya, Saya sempat berdialog dengan Gus shola dan santrinya, Bahkan kami sempat membahas tentang pertukaran pendidikan dengan Gus sholah,” ujar Donovan.

kedatangan dubes yang disambut dg kalungan buka di klenteng

kedatangan dubes yang disambut dg kalungan buka di klenteng

Disinggung tentang Pluralisme oleh awak media Donovan mengatakan, bahwa Indonesia dan Amerika adalah Negara yang besar dan sangat majemuk keanekaragaman yang ada di kedua negara tersebut adalah sumber kekuatan dan inspirasi bagi Negara. “Menurut saya Pluralisme adalah sumber kekuatan dan inspirasi bagi negara kita,”jelasnya.

Setelah itu kunjungan Donovan berlanjut ke klenteng Gudho tak lain untuk melihat secara langsung kesenian wayang potehi yang sering tampil di konsulat Amerika yang berasal dari klenteng gudho Hong San Kio.

Ditempat berbeda, pengasuh Klenteng Hong San Kio Irwan Yusuf sangat bangga dengan datangnnya Dubes Amerika ke klenteng Han Son Kio. Apalagi selain berkunjug Dubes juga sangat apresiatif terhadap kesenian Wayang Potehi di klentengnya.

pertunjukan eyang potehi menyambt Dubes

pertunjukan eyang potehi menyambt Dubes

Wayang potehi merupakan seni pertunjukan boneka tradisional asal Cina Selatan. “Potehi” berasal dari akar kata “pou” (kain), “te” (kantong), dan “hi” (wayang). Secara harfiah, bermakna wayang yang berbentuk kantong dari kain.

Wayang ini dimainkan menggunakan kelima jari. Tiga jari tengah mengendalikan kepala, sementara ibu jari dan kelingking mengendalikan tangan sang wayang.

“Selama ini pemerintah Amerika sangat apresiatif terhadap kesenian Potehi, bahkan sudah berulang kali mengundang kami untuk tampil di konsulat Amerika,”terangnya

Yusuf juga berharap dengan datangnya Dubes Amerika tersebut, dapat merubah pemikiran masyarakat bahwa klenteng bukan hanya milik masyarakat Tiong Hoa melainkan terbuka untuk Masyarakat umum.

“Klenteng ini tidak tertutup, tidak hanya untuk etnis Tiong Hoa, melainkan juga untuk masyarakat umum yang berkenan datang ke klenteng,” pungkasnya. (ham/jun)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional